ga tau mau judulin apa.

seseorang menyatakan kekecewaannya atas [ketiadaan]reaksiku selama ini..
menurutnya [juga seorang lainnya yang jadi pos tempat pengaduannya] sikap saya yang mengacuhkannya begitu rupa sungguh sangat berlebihan. gak masuk akal.
dan jika ia ingin ‘hak [di]jawab’nya dipenuhi, maka postingan ini merupakan yang terakhir dari saya. setelah ini, jangan berharap. saya tahu keteguhan saya dalam hal ini, dan saya yakin kamu tidak meragukannya.

hmm..
perlu diingat bahwa kadang kala suatu respon menjadi reaksi bukan akibat atas satu perbuatan/hal saja. jadi istilah “gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga” bisa jadi tidak berlaku saat ini. atau kalau maksa mau dicocok-cocokkan, coba digeser saja interpretasinya. bisa saja susunya rusak bukan karena si nila yg setitik itu kecemplung, tapi emang air susunya sudah lama dibiarkan pada udara terbuka dan tepat saat si nila tercemplung, memang sudah saatnyalah itu susu basi.

*eerrrrrrr

dan kamu!
ya, kamu yang merasa perlakuan saya ini tidak adil; mengapa begitu susahnya menerima kenyataan kalau saya tak ingin lagi menjadi bagian dari ingatanmu. apapun judulnya itu. teman curhat, adik, sahabat, bah!
bukannya saya menyimpan dendam, marah, benci dsb. saya tidak sesensitif itu hingga menganggap serius guyonan terakhirmu. hanya saja momen itu mengingatkan saya untuk bisa segera mengambil kesimpulan bahwa sikap terbaik yang bisa saya lakukan adalah tidak lagi berkomunikasi denganmu.

mengapa??

karena..
meski saya merasa menjaga hubungan baik dengan sesama umat manusia –apalagi saudara seiman dan setanah air– itu penting, tapi dampaknya terhadapmu tidaklah sehat, bung. sadarilah! atau jika menurutmu masih tidak ada yg salah dengan itu, alias kamu merasa sudah berusaha menjalin komunikasi yang ‘sehat-sehat’ saja, tapi tidak dalam pandanganku. tidak perlu diprotes, anggap ini sebagai prinsip dasar bagiku, layaknya agama; tak perlu saling gugat jika memang tak sepaham.

egois sekali keputusannya!

trus kenapa? saya rasa tidak ada ruginya jika saya menghilang dari ingatanmu. emm.. ok, mungkin ingatan itu tidak bisa dihapus, kecuali [menurut seorang mahasiswa kedokteran] dilakukan operasi tertentu terhadap sarafmu. tapi setidaknya.. jika namaku tak lagi ada dalam friendlist di akun Facebook atau YM mu, dan saya berdoa agar somehow nomor HP saya pun dihapus dari HP mu, lama kelamaan kamu akan merasa tak mempunyai alasan kesempatan atau kepentingan untuk berkomunikasi denganku lagi. dan inilah yang memang sudah seharusnya terjadi. karena kamu sudah punya kehidupan baru bung.. toh semuanya sudah selesai. segala yang ingin disampaikan sudah saya sampaikan, begitu juga kamu. maka segala janji utang piutang pun telah diikhlaskan..

childish sekali..

terserah. karena saya nyaman dengan ini. dan silahkan nyamankan dirimu atas kehidupan barumu bung.. itu harus.

28 responses to this post.

  1. Waduh! Ini kontemplasi serius ini!😯

    *baca-baca* . . . . .

    Hemmphh…. ini sangat getir dan pahit. Benar-benarlah….
    Coba lihat! Begitu sengitnya, sampai lupa tatanan baku berbahasa: Huruf di awal kalimat dan sesudah tanda titik harusnya kapital, makcik😕

    *direndam dalam belanga nila*😆

    hmm..
    perlu diingat bahwa kadang kala suatu respon menjadi reaksi bukan akibat atas satu perbuatan/hal saja. jadi istilah “gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga” bisa jadi tidak berlaku saat ini. atau kalau maksa mau dicocok-cocokkan, coba digeser saja interpretasinya. bisa saja susunya rusak bukan karena si nila yg setitik itu kecemplung, tapi emang air susunya sudah lama dibiarkan pada udara terbuka dan tepat saat si nila tercemplung, memang sudah saatnyalah itu susu basi.

    Hemm… hmm… mengingatkan pada acara penipuan susu basi diolah jadi susu bantal macam di tipi…😕

    Ah, aku tak faham masalah begini ini…

    Tapi sesekali bersikap kekanak-kanakan itu ada eloknya pula. Cuma, jadi ibrah sajalah ke masa depan *hatsaah… bijak sekali awak* untuk acap-acap mengukur jarak sebelum ter/dijaga jarak duluan. Jangan pernah menaruh ekspetasi terlalu meninggi dan jangan biarkan pula orang lain berekspetasi meninggi pada diri awak sendiri. Menjalin komunikasi personal acap bikin kita macam ditambat tali kerbau. Sekali tersakiti, susah sungguh penuh seluruh itu luka kita bawa berlari… berlari… hingga hilang pedih perih, jadi emoh hidup seribu tahun lagi….

    *laaah… jadi bersyair*😆

    Apapunlah… cari saja sisi-sisi menyenangkan dari hidup yang masih tersisa, Makcik. Dengan sedikit kebarat-baratan, boleh sesekali dengarkan U2 membawa lagu With Or Without You😀

    *Tapi boleh juga lagunya The Strokes – What Ever Happened. Cuma kayanya lebih cocok untuk cowok*:mrgreen:

    Eh, serius facebook-nya tak ada lagi? Hoohoho… mudah-mudahan bukan karena soal begini atau karena isu bau teori konspirasi zionis di balik facebook itu😆

    *Untung sudah beberapa bulan ini cuma punya blog dan Y!M saja*😛

    Reply

  2. Posted by falltara on February 7, 2010 at 22:25

    Wahahahay…
    Angkuu..!
    Aku ngetiknya langsung di kolom WP, ga smpat disiapkan di MW dulu, jd tak ada auto-capital. Dan mnurut saya mencet2 ‘shift’ itu cukup merusak emosi yg tengah disalurkan..😆

    FB ku deactivated bkn krn ini lah.. Kl gini doank mah tinggal diblock aja kalee…
    Tp krn mslh pribadi. Bnar2 pribadi! Tp cm smntara kok. Hehe..
    Dan saya tak ada masalah lg dg yg ini, hanya saja stelah dpikir2 mmg sharusnya saya sayonara dulu sblm bersikap demikian, jd tak apalah saya jawab skrg. Smoga tak ada pertanyaan lg. Hehe..

    Hmm…
    “Sekali tersakiti, susah sungguh penuh seluruh itu luka kita bawa berlari…”
    Ini..
    Ini… Tak sampai otak saya pikir mencari paham.. Agak ‘maksa’ mau paham, kok sperti terasa beraaaaaaat sekali ‘sakit’nya yah..?
    ¤_¤

    Reply

  3. duh kasian si susu digeletakin sembarangan di udara terbuka…gak masuk angin tu?

    *kabur ditimpuk sandal

    Reply

  4. Posted by falltara on February 16, 2010 at 14:36

    Yaelah miiin…. Dari sekian panjang tulisan gw, yg lu khawatirin cm susu masuk angin??
    PEREEEEZZ Lu min!!

    Reply

  5. @Dina: emangnya ada yang laen yang perlu dikuatirin? (baca ulang)

    Reply

  6. numpang baca yah😀

    Reply

  7. Posted by falltara on March 11, 2010 at 14:11

    @ Syahmin: siapa yg nyariin pak alex? Rentenir ya? Ataukah seorang wanita hamil?

    *siram tanduk biar cepat tumbuh*

    Reply

  8. Posted by falltara on March 14, 2010 at 16:53

    @Alexcobain:
    tak usah berkepslok2 segala, syahmin itu tau persis siapa yg lebih muda di antara qt! XP

    Reply

    • Iya. Dia tahu … makanya dia ngakak terbantal-bantal karena melihat komen penuh fitenah dimana si empunya blog menyebut “PAK” itu😎

      Reply

    • NJRIT…alex ponakannya dina =))

      kombinasi yang aneh

      Reply

      • Posted by falltara on March 15, 2010 at 21:40

        BAHHHHH!!
        justru itu bisa2nya Angku Alex saja, demi menyamarkan usianya yg tak muda lagi.. huh.
        asal tau aja min, sekampung itu dipanggilnya makcik-pakcik semua,, artinya belum kuasa ia menerima kenyataan bahwa DIA MEMANG SUDAH TUA

      • BAHHHHH!!
        justru itu bisa2nya Angku Alex saja, demi menyamarkan usianya yg tak muda lagi.. huh.

        Fitenah Lainyangtidak Maghfirah!!

        asal tau aja min, sekampung itu dipanggilnya makcik-pakcik semua,, artinya belum kuasa ia menerima kenyataan bahwa DIA MEMANG SUDAH TUA

        Fakta bahwa sekampung menerima panggilan begitu adalah kenyataan bahwa yang memanggil memang lebih muda. Ulangi: LEBIH MUDA. KELAHIRAN 1992!!😈
        Yang bilang “tidak” kudoakan modemnya error😆

      • Posted by falltara on March 16, 2010 at 00:14

        1992??? kelahiran siapa itu? kelahiran ponakanmu ya Angku??😯

        jgn bawa2 modem yah.. terima sajalah kenyataan bahwa modemmu tak lebih dari batang impoten!😆

  9. Posted by sipecundang on March 15, 2010 at 14:09

    Semua keinginan sudah terpenuhi. cuma gw pernah beli buku busuk yg harganya cuma 1000 perak, didalamnya mengatakan, ” nggak perlu 2 kali untuk menjadi PENAKUT ” karena terus terang itu bukan DOSA. orang Bilang hilang kenangan nggak akan separah kehilanagan SAHABAT, dan AKU punya SATU. bagiku dia udah CUKUP tau keadaan yang sebenarnya, sikap emang nggak pernah berubah. PENAKUT tetep PENAKUT.

    Reply

  10. @ Empunya Blog

    1992??? kelahiran siapa itu? kelahiran ponakanmu ya Angku??😯

    Kalau itu tanggal lahir keponakanku, berarti cucumu, Makcik😎

    jgn bawa2 modem yah.. terima sajalah kenyataan bahwa modemmu tak lebih dari batang impoten!😆

    Im…impoten?😯

    Hussh!

    Kubilang Maktuwo, ibunya Makcik! Kubilang!
    Sudah pandai dia pakai kata-kata “impoten”! Ha, denjeres benarlah kosa-kata itu. Kubilang Maktuwo!
    Pasti lekas-lekas engkau disuruh pulang! Gyahahahahahah …

    *digantung di Tugu Durian Batu*

    Reply

    • Posted by falltara on March 18, 2010 at 01:07

      “Kubilang Maktuwo, ibunya Makcik! Kubilang!”

      BAHHHH!!!
      sepandai-pandainya Alex melompat akhirnya jatuh juga!
      mana ada orang manggil ibu makciknya dg sebutan maktuwo???😆

      skakmat!
      memang hanya yang reflek itulah -dari seorang pria- yg bisa dipegang kebenarannya.
      huh!

      *tebar senyum kemenangan*😀😀😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: